Skor matematika siswa Indonesia berusia 15 tahun turun dua poin menjadi 364 dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Adapun rata-rata di 91 negara dan perekonomian yakni sebesar 469.
PISA adalah survei pada siswa berusia 15 tahun yang mengukur kemampuan dan keterampilan dalam sains, membaca, dan matematika dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). PISA 2025 melibatkan 760.000 siswa di 91 negara dan wilayah ekonomi.
Merespons hasil PISA 2025, Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan penurunan skor matematika dua poin harus menjadi pelecut agar pembelajaran di kelas tidak hanya berorientasi pada kemampuan murid dalam menghafal angka atau rumus.
"Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika", kata Satriwan dalam keterangan resminya yang diterima detikEdu, Rabu (9/9/2026).
Selaras, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati mengatakan siswa Indonesia unggul dalam matematika ketika dihadapkan dengan perhitungan.
Di sisi lain, siswa masih butuh belajar untuk memilah informasi rinci dalam soal kontekstual agar tidak terjebak dalam pengerjaannya. Hal ini terutama penting bagi siswa dengan pemahaman konsep matematika yang belum kuat.
"Dia harus bisa menerjemahkan. Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari," ucapnya.
Hal tersebut disampaikan Rahmawati pada Peluncuran Hasil PISA 2025 di Gedung E Kemendikdasmen, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Tantangan Soal dengan Konteks Sehari-hari
Berdasarkan hasil PISA 2025, persentase jumlah siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika pada hasil PISA 2025 RI baru mencapai 16,93 persen. Rahmawati menjelaskan siswa yang telah sudah kompetensi minimum berarti bisa memformulasikan masalah sehari-hari ke dalam konteks atau formula matematika.
"Karena permasalahan sehari-hari, ini artinya ada informasi, baik dalam bentuk teks, dalam bentuk grafik, dalam bentuk kabel, yang informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan, kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi, sebelum kita memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut," kata Rahmawati.
"Nah ini yang menjadi pekerjaan kita juga," ucapnya.
Pelatihan Guru
Di sisi lain, P2G mengapresiasi temuan PISA 2025 bahwa 85 persen siswa RI menilai guru terus mengajar sampai mereka mengerti. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata negara OECD yang sebesar 69%.
Lebih lanjut, sebanyak 80 persen siswa RI menilai guru memberikan bantuan tambahgan ketika mereka membutuhkannya. Persentase ini juga lebih tinggi dari rata-rata negara OECD (73 persen).
"Guru di Indonesia punya rasa tanggung jawab dan dedikasi tinggi kepada murid," kata Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri.
"Guru menjelaskan materi ke murid sampai mereka benar-benar memahaminya. Dukungan belajar yang kuat dari guru dapat memperkecil ketimpangan pemahaman antarmurid, sebab guru meluangkan waktu ekstra kepada semua murid tanpa kecuali," sambungnya.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan, Kemendikdasmen akan berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan memastikan pembelajaran matematika lebih kontekstual.
Dalam hal ini, Kemendikdasmen juga akan mengubah mindset pelatihan terhadap guru agar pembelajaran dapat diarahkan pada pemahaman konsep, penerapan konsep di dalam kehidupan yang nyata, dan pemecahan masalah.
"Bukan sekadar menghafal rumus. Jadi dukungan, terutama dukungan dari buku, dukungan dari pelatihan guru, asesmen, dan juga pendampingan sekolah, itu yang juga akan diselaraskan dengan arah tersebut," kata Toni.





