Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Seni tradisi Poh Kipah yang diperagakan Grup Tangkulok Pase ikut menghentak panggung perayaan Milad ke-800 Tahun Aceh Utara.
Penampilan tersebut tidak hanya menyuguhkan syair dan irama tradisi Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesenian lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Di balik penampilan tersebut terdapat perjalanan panjang Grup Tangkulok Pase yang dibentuk pada 2002 oleh penyanyi Aceh, Yusran Yusuf atau lebih dikenal dengan nama Yusran Yus, asal Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.
Yusran Yus menjelaskan, pada awalnya kesenian yang mereka tampilkan dikenal dengan sebutan Dike Poh Kipah. Namun, pada 2002 ia melakukan modifikasi terhadap konsep kesenian tersebut dan memperkenalkan nama Seni Poh Kipah.
Perubahan itu dilakukan setelah muncul perbedaan pendapat mengenai Dike Poh Kipah yang selama itu lebih banyak ditampilkan dalam kegiatan keagamaan, khususnya pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurut Yusran, Dike Poh Kipah pada masa itu identik dengan kegiatan maulid sehingga ruang tampilnya relatif terbatas.
Karena itu, ia mencoba mengembangkan bentuk kesenian tersebut agar dapat ditampilkan dalam berbagai kesempatan.
"Dulunya memang banyak Dike Poh Kipah, tapi sekarang jarang muncul," kata Yusran Yus kepada Serambinews.com, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: Rapai Pase Menggelegar Saat Pembukaan Milad 800 Tahun Samudera Pasai di Aceh Utara
Setelah dikembangkan menjadi Seni Poh Kipah, Tangkulok Pase mulai tampil tidak hanya dalam kegiatan zikir atau peringatan keagamaan, tetapi juga pada berbagai kegiatan masyarakat, termasuk hajatan keluarga.
Perjalanan kesenian tersebut juga tidak terlepas dari situasi sosial Aceh. Pada masa konflik, Seni Poh Kipah sempat tampil dalam sejumlah hajatan warga.
Meski masih terbatas, keberadaan kelompok tersebut tetap menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menikmati kesenian tradisional.
Namun, perjalanan Tangkulok Pase sempat terhenti. Seni Poh Kipah mengalami masa vakum ketika Aceh dilanda tsunami, ditambah situasi konflik dan kemudian pandemi Covid-19 yang turut membatasi aktivitas masyarakat dan kegiatan kesenian.
Seiring membaiknya kondisi, kegiatan kesenian kembali dihidupkan. Salah satu upaya yang dilakukan Tangkulok Pase adalah melibatkan generasi muda dalam setiap penampilannya.
Dalam penampilan di Piasa Pase, Tangkulok Pase menampilkan 18 anak dan remaja yang berasal dari jenjang SD, SMP hingga SMA. Mereka sebagian berasal dari Kecamatan Syamtalira Aron dan Tanah Pasir.
Para pemain muda tersebut tampil menggunakan alat musik tradisional dari situk (upih) dan mendapat pendampingan dari Afwadi.
Yusran mengatakan keterlibatan anak-anak dan remaja tersebut bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pemain dalam sebuah pertunjukan.
Mereka juga sedang dipersiapkan agar memiliki kesempatan mengembangkan minat dan bakat di bidang seni tradisi.
"Jadi mereka pada malamnya latihan, sehingga ada aktivitas. Mereka bisa terhindar dari penggunaan HP berlebihan dan juga pengaruh negatif lainnya," ujar Yusran.
Baca juga: Lomba Tradisional Enggrang Meriahkan Milad 8 Abad Samudera Pasai, Diikuti 44 Siswa
Ia menambahkan, proses latihan dilakukan secara rutin sehingga anak-anak memiliki kegiatan positif di luar aktivitas sekolah.
Bagi Yusran, keberadaan generasi muda menjadi penting untuk memastikan kesenian Poh Kipah tidak berhenti pada generasi sekarang. Regenerasi pemain menjadi salah satu cara agar seni tradisi tersebut tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi berikutnya.
Selain penampilan musik dan gerak, kekuatan Seni Poh Kipah Tangkulok Pase juga terletak pada syair yang disampaikan. Menurut Yusran, syair tidak dibuat secara kaku, tetapi disesuaikan dengan tempat dan momentum pertunjukan.
"Untuk syair kita menyesuaikan tempat," ujar Yusran Yus.
Saat tampil di Piasa Pase, misalnya, syair yang dibawakan mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu pesan yang disampaikan berkaitan dengan pembangunan dan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.
Melalui syair tersebut, Yusran juga menitipkan pesan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara agar memperhatikan infrastruktur, khususnya jalan-jalan yang mengalami kerusakan.
Pesan sosial juga diarahkan kepada masyarakat yang menjadi penyintas banjir. Mereka diajak untuk tetap tabah dan bersabar sembari menunggu bantuan atau jadup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dengan demikian, Seni Poh Kipah tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang menyampaikan pesan sosial dan aspirasi masyarakat melalui bahasa seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Yusran berharap Seni Poh Kipah dan kelompok Tangkulok Pase dapat terus berkembang serta mendapat ruang yang lebih luas dalam berbagai kegiatan kebudayaan di Aceh Utara.
Menurutnya, keberlangsungan seni tradisi sangat bergantung pada kemauan untuk melakukan regenerasi. Karena itu, melibatkan anak-anak dan remaja sejak dini menjadi salah satu langkah penting agar kesenian yang pernah hidup kuat di tengah masyarakat tidak hilang ditelan zaman.
Penampilan 18 anak dan remaja Tangkulok Pase di panggung Milad ke-800 Tahun Aceh Utara menjadi salah satu gambaran bahwa seni tradisi masih memiliki tempat di tengah generasi muda, sepanjang diberikan ruang, pendampingan, dan kesempatan untuk berkembang.(*)