Liputan6.com, Jakarta - PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) mencatat laba bersih dan laba kotor turun pada semester I 2026, meski pendapatan tumbuh.
Direktur dan Chief Operations Officer (COO) Radiant Soeharto Nurcahyono mengungkapkan tekanan tersebut terutama berasal dari persaingan serta komposisi proyek yang dikerjakan perseroan.
"Memang kami menyadari meskipun revenue kami tumbuh, namun mungkin makin kami mengalami tekanan. Bukan hanya dari sisi kompetisi, namun juga dari sisi komposisi proyek," ujarnya dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).
Untuk memperbaiki kinerja margin, Radiant menyeleksi proyek baru yang dikejar. Perseroan tak lagi berfokus pada jumlah sebagai indikator pertumbuhan, tetapi juga nilai, kualitas, durasi, dan profitabilitas setiap proyek.
"Ke depannya, kami akan lebih fokus untuk meningkatkan quality dari revenue," kata Soeharto.
Radiant akan memperbesar porsi proyek ber-profit tinggi serta memperketat pengendalian biaya, disertai pengoptimalan solusi digital untuk memperbaiki proses eksekusi proyek.
Soeharto menilai,strategi tersebut penting karena Radiant memiliki sekitar 300 proyek dengan nilai kontrak Rp 90 triliun, yang sebagian bersifat multiyears dengan durasi 2-3 tahun, sehingga mengekspos aktivitas bisnis ke depan.
"Kami melihat jumlah proyek bukan menjadi satu-satunya indikator pertumbuhan. Yang lebih penting bagi kami adalah bagaimana mengenai nilai, kualitas, durasi, dan profitabilitas dari keuangan yang kami peroleh," ungkapnya.
Tekanan margin membuat perseroan mengarahkan portofolio ke proyek di sektor AIS serta pekerjaan operation and maintenance (O&M), yang menurut Soeharto memiliki profit lebih tinggi dibanding layanan manpower.