Pengalaman menginap kini semakin lengkap dengan deretan kuliner lezat. Pilihan makanan yang lebih sehat, berkualitas, dan sesuai kebutuhan tubuh juga mulai menjadi bagian dari gaya hidup traveling.
Tren tersebut coba dijawab Verde Social Garden, restoran bergaya Italia, yang baru saja dibuka di Alana Hotel and Convention Center. Restoran ini menawarkan konsep kuliner Italia yang dipadukan dengan pendekatan wellness.
Executive Chef Alana Sentul Hotel and Conference, Made Leon Winata yang menangani menu di Verde Social Garden, menjelaskan bahwa konsep wellness yang diusung restoran bukan semata-mata berarti makanan diet atau salad.
"Wellness itu dari pandangan saya artinya proper nutrition ke tubuh kita, tanpa artificial atau pengawet makanan," ujar Chef Leon kepada tim detikcom beberapa waktu lalu.
Menurutnya, masih banyak anggapan yang keliru mengenai makanan sehat. Makanan sehat tidak selalu identik dengan salad atau menu diet.
"Yang banyak salah kaprah, ketika orang berpikir, 'Wah, sudah hidup sehat nih, makan salad'. Sebenarnya bukan begitu. Itu lebih ke diet. Kalau wellness, apa yang kita makan, kalau itu real food, sebenarnya sudah healthy. Yang penting jangan berlebihan," katanya.
Konsep tersebut kemudian diterapkan dalam penyusunan menu Verde Social Garden. Setiap hidangan dibuat dengan memperhatikan komposisi bahan dan porsinya. Makanan digramasi sehingga penggunaan bahan dapat dikontrol, sekaligus menjaga konsistensi setiap hidangan yang disajikan.
Porsi harian terbatas agar selalu fresh
Executive Chef Alana Sentul Hotel and Conference, Made Leon Winata Foto: Dadan Kuswaraharja/detikcom
|
Pengalaman Chef Leon dalam mengembangkan menu wellness juga menjadi salah satu dasar konsep restoran tersebut. Sebelumnya, ia terlibat dalam komunitas wellness yang memiliki perhatian terhadap kebutuhan nutrisi, termasuk menghitung kandungan protein dalam makanan.
Salah satu contoh penerapannya terdapat pada menu pasta. Chef Leon mengatakan seluruh pasta yang dibuat di Verde Social Garden menggunakan telur.
"Jadi satu pasta kita semua pakai telur. Jadi kita makan pasta sudah ada proteinnya, sekitar 30 gram," jelasnya.
Kandungan protein tersebut belum termasuk bahan lain yang digunakan dalam hidangan. Pada menu pasta dengan udang, misalnya, tambahan protein juga berasal dari udang serta kaldu yang dibuat dari bagian kepala dan kulit udang.
Kaldu udang tersebut bahkan membutuhkan proses yang cukup panjang. Kepala dan kulit udang direbus selama sekitar 36 jam sebelum disaring dan kemudian melalui proses pendinginan cepat atau ice bath.
Bahan utama seperti udang juga tidak disimpan dalam jumlah berlebihan. Chef Leon memilih membatasi kapasitas bahan agar kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.
Udang tidak distok banyak demi menjaga kualitas kesegarannya. Foto: Dadan Kuswaraharja/detikcom
|
"Contohnya udang, saya cuma batasi 50 karena yang bisa didatangkan supplier hanya sekian kilo untuk fresh. Kalau habis, ya sudah tidak bisa lagi," ujarnya.
Konsep serupa diterapkan pada pasta. Verde Social Garden tidak menyiapkan pasta dalam jumlah besar untuk disimpan sebagai stok. Pasta baru dimasak ketika ada pesanan sehingga traveler dapat menikmati pasta yang dibuat dalam kondisi fresh.
Menurut Chef Leon, pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda Verde Social Garden. Bukan hanya bahan yang diperhatikan, tetapi juga proses pembuatannya. Untuk menu pasta, restoran ini menyediakan sejumlah pilihan salah satunya aglio e olio.
Pizza sehat dengan adonan sourdough
Pizza berbahan sourdough di Verde Social Garden. Foto: Dadan Kuswaraharja/detikcom
|
Selain pasta, Verde Social Garden juga menyajikan pizza bergaya Neapolitan. Adonannya menggunakan sourdough starter yang telah dikembangkan dalam waktu panjang dan dipanggang dengan suhu tinggi sekitar 450 derajat Celsius.
Chef Leon juga memperhatikan proses fermentasi adonan. Untuk pizza, adonan membutuhkan waktu fermentasi yang panjang agar menghasilkan karakter rasa dan tekstur yang diinginkan.
Penggunaan bahan lokal juga menjadi bagian dari strategi restoran. Menurut Chef Leon, penggunaan bahan impor dalam jumlah besar akan membuat harga hidangan menjadi jauh lebih tinggi. "Bahannya lokal-lokal. Kalau impor, enggak mungkin saya jual segitu, sudah bangkrut," katanya sambil tertawa.
Meski mengusung konsep wellness, Verde Social Garden tidak membatasi pengunjung pada menu diet tertentu. Chef Leon menilai kebutuhan setiap orang berbeda. Karena itu, restoran juga membuka kemungkinan pengembangan menu diet dan minuman berprotein pada tahap berikutnya.
"Kita bakal ada hydro, yang protein juga nanti ada," ujarnya.
Pilihan menu juga dibuat dengan mempertimbangkan kapasitas produksi. Misalnya, tiramisu hanya dibuat dalam jumlah terbatas karena menggunakan bahan yang sensitif seperti mascarpone.
Menu dengan truffle juga stoknya dibatasi mengingat harga bahan tersebut cukup tinggi dan karakter rasanya tidak selalu cocok untuk semua orang.
Menariknya, konsep wellness di Verde Social Garden tidak berarti semua hidangan harus dikategorikan sebagai makanan diet. Bahkan hidangan seperti tiramisu tetap tersedia, dengan catatan restoran memberikan informasi mengenai kandungan alkohol di dalamnya.
Chef Leon mengatakan tiramisu yang disajikan menggunakan Kahlua dalam larutan kopinya. Karena itu, staf restoran akan memberikan penjelasan kepada tamu sebelum pesanan dibuat.
"Kalau ada yang mau order tiramisu, kita jelaskan dulu ini ada kandungan alkoholnya. Kalau tidak mau pakai alkohol bisa, cuma rasanya mohon maaf tidak sesuai yang bapak atau ibu ekspektasikan," katanya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana Verde Social Garden mencoba menerjemahkan konsep wellness secara lebih fleksibel. Traveler tetap dapat menikmati pasta, pizza, hingga tiramisu, tetapi dengan perhatian lebih besar terhadap kualitas bahan, proses pengolahan, porsi, dan kandungan makanan.
Kehadiran Verde Social Garden di Alana Hotel & Convention Center pun memberikan alternatif bagi traveler yang ingin menikmati kuliner Italia tanpa harus meninggalkan perhatian terhadap pola makan selama perjalanan.
Bagi Chef Leon, wellness pada akhirnya bukan tentang membatasi makanan secara berlebihan, melainkan memahami apa yang dikonsumsi dan menjaga keseimbangannya.
"Kalau itu real food, sebenarnya sudah healthy. Yang penting jangan berlebihan," pungkasnya.








