Para pendiri Partai Komunis Indonesia yang nasibnya berbeda-beda. Persamaannya: tak dipakai di PKI-nya DN Aidit.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Semaun, Alin, dan Darsono. Itulah tiga nama pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kelak di kemudian hari punya nasib yang berbeda-beda.
Jika berbicara tentang pemberontakan berskala nasional pertama di Indonesia pada abad ke-20 adalah pemberontakan PKI pada 1926. Hasil dari pemberontakan itu salah satunya adalah kamp tahanan Boven Digul di Papua Selatan.
PKI pada masa pernah menjadi partai komunis terbesar di dunia yang beroperasi di luar Cina dan Uni Soviet. Bagaimana komunisme bisa sampai Indonesia, mari kita mundur pada awal 1910-an.
Pada awalnya adalah Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang pertama berdiri pada 9 Mei 1914. Pada 23 Mei 1920 namanya berubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia lalu resmi menjadi Partai Komunis Indonesia pada 1924.
Tiga tokoh pendirinya adalah Semaoen, Alimin, dan Darsono. Tapi jangan lupakan sosok Henk Sneevliet yang pertama-tama memperkenalkan sosialisme di Hindia Belanda.
Nama lengkapnya Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevliet atau dikenal sebagai Henk Sneevliet adalah tokoh Belanda yang membawa komunisme ke Indonesia. Dialah yang mendirikan ISDV.
Pada 1914, Sneevliet dan rekanya serta serikat buruh kereta api dan trem Vereeniging Voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP) mendirikan ISDV yang menjadi cikal bakal PKI. Sneevliet juga aktif dalam memperkenalkan gagasan revolusi proletariat dan komunisme di kalangan aktivis muda Indonesia.
Ide-idenya berhasil diterima dan menyusup ke dalam tubuh Sarekat Islam (SI), yang menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia pada saat itu, melalui Semaun. Tindakan agresif Sneevliet dalam mengkritik pemerintah kolonial serta menyebarkan propaganda agar para buruh dan kalangan pekerja melakukan aksi mogok kerja, membuatnya ditangkap bersama sejumlah tokoh ISDV.
Dalam persidangannya, perjuangan Sneevliet ternyata berhasil membuat kagum salah seorang pemuda keturunan bangsawan asal Pati, yakni Darsono. Di persidangan itu pula, Darsono bertemu Semaun, yang mengajaknya bergabung dalam SDV dan SI cabang Semarang.
Semaun dan Darsono pun menjadi penggerak utama organisasi ISDV, setelah Sneevliet dan tokoh-tokoh Belanda lainnya diusir dari Indonesia. Sneevliet dinilai membahayakan pemerintah kolonial, karena ide-ide Marxis dan komunisme dianggap sebagai antitesis dari kolonialisme dan kapitalisme.
Meskipun eksistensinya ada sebelum nama PKI resmi digunakan, Sneevliet dianggap sebagai pencetus PKI yang berperan besar dalam proses pembentukan PKI.
Pada awal 1920, ISDV menerima surat dari Sneevliet dengan nama samaran Haring. Isi surat yang dikirim dari China tersebut adalah anjuran bagi ISDV untuk menjadi anggota Komintern.
Untuk menjadi anggota Komintern, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah menggunakan nama terang partai komunis dan daerah atau negara asalnya.
Di tengah kekhawatiran anggota jika menjadi anggota Komintern, maka secara struktural tunduk di bawah Uni Soviet, Semaoen menjelaskan bahwa perubahan nama hanyalah perkara administrasi organisasi. Akhirnya, dalam Kongres VII ISDV pada 23 Mei 1920, ISDV kemudian secara nyata menjadi Perserikatan Komunis Hindia Belanda (PKH), meski masih menggunakan statuta organisasi ISDV.
Meski masih menggunakan nama PKH, pada 23 Mei 1920 dianggap sebagai momen berdirinya PKI dengan Semaun sebagai Ketua PKI pertama dan Darsono menjadi wakilnya. Sebagai seorang buruh dan aktivis pergerakan sosial, Semaun aktif dalam organisasi Sarekat Islam (SI), yang merupakan kekuatan besar pada waktu itu.
Kepemimpinan Semaun membawa PKI ke jalur yang lebih revolusioner, dengan fokus pada pembebasan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda melalui perubahan sosial dan ekonomi. Darsono, meskipun tidak setenar Sneevliet dan Semaoen, juga memainkan peran penting dalam perkembangan awal PKI.
Darsono merupakan salah satu dari sedikit pemimpin komunis Indonesia yang secara serius mendalami ilmu Marxisme. Dia juga pengagum berat Revolusi Bolshevik, yang dikenal karena semangatnya yang tinggi dalam memperjuangkan ideologi komunis dan revolusi sosial.
Sebagai aktivis yang terlibat dalam gerakan buruh dan serikat pekerja, Darsono membantu memperluas pengaruh PKI di kalangan massa yang lebih luas, khususnya dari kalangan buruh dan petani.
Semaoen ketua PKI pertama
Semaoen menjadi komunis setelah bertemu dengan Henk Sneevliet. Setelah Sneevliet dibuang karena dianggap berbahaya, Semaoen kemudian yang menjadi orang nomor satu di PKI.
Karena aktivitasnya yang sangat radikal, Semaoen pada akhirnya juga ditangkap oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan dibuang ke Belanda.
Semaoen lahir di Curahmalang, Sumobito, Jombang, pada 1899. Namanya ayahnya adalah Prawiroatmodjo, seorang pegawai rendahan, tukang batu di perusahaan kereta api di Jawa Timur.
Meski begitu, Semaoen mendapatkan pendidikan di Tweede Klas (sekolah bumi putera kelas dua). Tak hanya itu, Semaoen juga mendapat tambahan bahasa Belanda dan mengikuti kursus di sore hari.
Setelah lulus dari Tweede Klas, Semaoen berhenti sekolah. Dia kemudian bekerja di perusahaan kereta api (Staatsspoor) di Surabaya sebagai juru tulis atau klerek.
Sembari bekerja di perusahaan kereta api, itu Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeling Surabaya pada 1914. Setahun kemudian dia bertemu dengan Henk Sneevliet.
Setelah itu, Sneevliet mengajak Semaoen bergabung dengan ISDV dan VSTP atau serikat buruh kereta api cabang Surabaya. Pada 1916, Semaoen kemudian memutuskan pindah ke Semarang karena diangkat menjadi agen propaganda VSTP – berkat pemahaman dalam bahasa Belanda, dan kegigihan untuk terus belajar.
Tak hanya itu, di Semarang Semaoen juga diangkat menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa melayu. Ketika itu, usia Semaoen masih sangat muda tapi sangat cerdas.
Walau aktif di ISDV dan VSTP, Semaoen juga masih anggota Sarekat Islam dan ditunjuk sebagai redaktur koran Sinar Djawa-Sinar Hindia. Ketika usianya masih 19 tahun, Semaoen sudah diangkat sebagai anggota dewan pimpinan di SI.
Di Semarang, Semaoen semakin radikal. Dia terlibat dalam banyak aksi mogok buruh, seperti yang terjadi pada 1918 dan 1920. Aksi tersebut berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.
Di sini, Semaoen juga berkenalan dengan pemuda-pemuda radikal lainnya seperti Darsono, Alimin, Marco, Musso, dan Haji Misbach. Bersama mereka inilah Semaoen mendirikan Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) pada Mei 1920 yang empat tahun kemudian berubah menjadi Partai Komunis Indonesia.
Semaoen ditunjuk sebagai ketua PKI yang pertama. Setahun kemudian, dia pergi ke Moskow dan posisinya diganti oleh pemuda lainnya bernama Tan Malaka. Tapi setelah kembali pada 1922, Semaoen kembali mendapatkan jabatannya sebagai ketua PKI.
Pada 1923, PKI merencanakan demonstrasi besar-besaran menggugat Hindia-Belanda. Aksi tersebut dengan mudah berhasil dihentikan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Setelah itu, Semaoen kemudian ditangkap dan diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke Belanda.
Selama di Eropa, Semaoen kemudian pindah ke Uni Soviet selama 30 tahun. Di Eropa, Semaoen menjadi aktivis tapi dalam aksi yang terbatas, dia juga beberapa kali menjadi pembicara di Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Selama di pengasingan, Semaoen juga belajar di Universitas Tashkent di Uzbekistan. Semaoen juga aktif di Executive Committee of the Comintern atau Komite Eksklusif Komunis Internasional (ECCI).
Selama di Uni Soviet, Semaoen bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia dan penyiar berbahasa Indonesia pada radio di Moskow. Bahkan, di Moskow, Semaoen pernah diangkat oleh Stalin menjadi pimpinan Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan.
Setelah puluhan tahun di pengasingan, Semaoen akhirnya kembali ke Indonesia dan pindah ke Jakarta pada 1953. Semaoen pulang karena inisiatif dari Iwa Kusumasumantri, politikus yang merupakan mantan Menteri Sosial.
Ketika kembali ke Indonesia, Semaoen terputus hubungannya dengan PKI, partai yang dia dirikan bersama Alimin dan Darsono. Pada 1959 hingga tahun 1961, Semaoen menjadi pegawai pemerintah. Dia juga mengajar mata kuliah ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Semaoen akhirnya meninggal dunia pada 7 April 1971 di usia 72 tahun. Semaoen kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga R.A Prawiraatmadja di Pasuruan, Jawa Timur.
Darsono berdarah bangsawan Jawa
Darsono adalah wakil ketua PKI yang pertama. Dia merupakan keturunan bangsawan Jawa yang terpikat dengan ide-ide sosialisme yang dianggapnya bisa membantu pribumi terentas dari kesengsaraan yang ditimbulkan pemerintah kolonial Belanda.
Darsono resmi terjun ke organisasi cikal bakal PKI sekaligus Sarekat Islam, setelah berkenalan dengan Semaoen. Karena dinilai terlalu agresif dalam mengorganisasi pemogokan dan menyebarkan pesan komunis, dia dibuang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Darsono baru kembali ke Tanah Air setelah Indonesia merdeka. Namun, sebagaimana halnya dengan Semaoen, dia tidak lagi terafiliasi dengan PKI-nya DN Aidit dan kemudian berkarier di kementerian.
Raden Darsono Notosudirdjo lahir pada 15 November 1897, di Pati, Jawa Tengah. Dia merupakan putra dari seorang anggota kepolisian di Kota Pati.
Setelah tamat sekolah dasar untuk anak-anak Eropa, Darsono melanjutkan pendidikannya ke sekolah pertanian di Sukabumi, Jawa Barat. Dia sempat mengajar pertanian di Bojonegoro, Jawa Timur, dan bekerja di perkebunan tebu.
Pengalaman itulah yang membuatnya sadar betul kondisi para petani yang terjerat kemiskinan sekaligus sistem sosial yang buruk akibat penjajahan Belanda.
Setelah gagal melanjutkan pendidikan di sekolah dokter hewan, Darsono meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke Semarang. Di kota tepi laut inilah Darsono segera tertarik pada ide-ide sosialisme, terutama setelah menghadiri persidangan Henk Sneevliet pada 1917.
Darsono kagum pada Sneevliet yang dianggapnya mau berkorban demi memihak pribumi. Di persidangan Sneevliet inilah Darsono bertemu dengan teman seperjuangannya nanti, Semoen, yang ketika itu adalah ketua Sarekat Islam cabang Semarang dan tokoh ISDV.
Tak hanya mengajak Darsono masuk SI Semarang dan ISDV, Semaoen juga memasukkan Darsono dalam keredaksian Sinar Djawa, koran resmi milik SI Semarang. Lewat koran inilah Darsono semakin kritis sehingga membuatnya pernah dipenjara pemerintah Hindia Belanda.
Tak hanya kepada pemerintah kolonial, Darsono juga mengkritik Abdul Muis dan HOS Tjokroaminoto, dua tokoh terkemuka Sarekat Islam. Termasuk menulis soal dugaan korupsi oleh Tjokro.
Darsono tercatat pernah mewakili PKH pada Kongres Komintern ke-3 di Moskow, bekerja untuk Komintern di Berlin, dan menjadi pembicara pada kongres Partai Komunis Belanda di Groningen. Pada 1922, Darsono kembali ke Moskow.
Di Indonesia, nasibnya terus didiskusikan oleh para pejabat kolonial. Banyak yang mengusulkan bahwa dia harus diperlakukan sama seperti Semaoen tidak diizinkan masuk kembali ke Indonesia. Namun, dia berhasil masuk kembali ke Indonesia pada 1923.
Meski begitu, dia terus diawasi dan menjadi incaran para pejabat Belanda serta Gubernur Jenderal.
Darsono tergolong tokoh PKI yang relatif moderat karena tidak mau menggunakan teror atau metode kekerasan lainnya. Meski begitu, pada akhirnya dia tetap diasingkan oleh pemerintah kolonial pada 1926.
Setelah Darsono pergi, PKI menjadi lebih radikal. Saat terjadi pemberontakan PKI 1926, Darsono – juga Semaoen – sedang dalam pengasingan.
Di Uni Soviet, Darsono bekerja untuk Komintern selama beberapa tahun. Dia juga terpilih sebagai anggota alternatif Komite Eksekutif Komunis Internasional pada tahun 1928.
Ketika pemberontakan PKI pada 1926 yang berujung pada kegagalan, Darsono sebenarnya masih mengupayakan bantuan. Namun, upayanya tidak menemui titik terang dan hubungannya dengan PKI perlahan terputus.
Pada 1929, Darsono mencalonkan diri untuk sebuah jabatan dalam Partai Komunis Belanda. Setelah dikeluarkan dari Komintern pada 1931, dia sempat berada di Berlin, Jerman. Pada akhir 1930-an, Darsono menetap di Amsterdam, belanda.
Setelah dua dekade lebih melanglang buana di Eropa, Darsono akhirnya pulang ke Indonesia pada 1950. Meski begitu, dia sudah tak terikat sama sekali dengan PKI-nya DN Aidit, Njoto, dan generasi yang lebih baru. Darsono kemudian menjadi penasihat di Kementerian Luar Negeri Indonesia sampai 1960. Darsono mengembuskan napas terakhirnya pada 1976 di Semarang pada usia 79 tahun.
Alimin jadi Pahlawan Nasional
Di antara tiga nama ini, Alimin barangkali yang paling radikal. Dialah salah satu pemimpin pemberontakan PKI 1926 yang meletus di beberapa tempat di Hindia Belanda.
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Presiden No. 163 Tahun 1964, pada 26 Juni 1964, Alimin tercatat sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Alimin lahir di Solo pada 1889. Ketika dia masih kecil, seorang Belanda bernama G.A.J. Hazeu yang menjabat sebagai Penasehat Urusan Pribumi, memberikan Alimin beberapa keping uang. Alimin lalu membagikan uang itu kepada teman-teman sepermainannya.
Melihat hal itu, G.A.J. Hazeu tergugah hatinya untuk mengangkat Alimin sebagai anak angkatnya. Alimin kemudian disekolahkan di sekolah Eropa di Betawi dengan harapan nantinya Alimin akan bekerja sebagai pegawai pemerintah.
Yang terjadi kemudian, Alimin malah menjadi tokoh pergerakan nasional. Mula-mula dia menjadi jurnalis di Djawa Moeda dan bergabung dengan Budi Utomo.
Ketika Sarekat Islam muncul, Alimin bergabung dalam organisasi tersebut. Dia juga sempat tinggal di rumah kos milik Cokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam.
Setelah itu, bersama dengan dokter muda Cipto Mangunkusumo, dia bergabung dalam Insulinde, organisasi politik zaman Hindia Belanda. Alimin juga menjadi editor di jurnal Modjopahit di Batavia.
Di tengah-tengah itu, lahirlah ISDV yang menjadi cikal bakal partai komunis di Indonesia. Alimin pun bergabung dalam organisasi tersebut. Alimin bahkan sempat menjadi pimpinan wilayah Jakarta sejak 1918.
Pada 1920-an, Alimin dipercaya menjadi pemimpin PKI di Batavia. Pada awal 1926, sebagai pimpinan PKI, Alimin pergi ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka.
Tak hanya itu, Alimin juga menggalang para jawara dan orang-orang dunia hitam di Tanjung Priok untuk ikut pergerakan. Tugas mereka adalah untuk melindungi orang-orang PKI dari incaran penguasa kolonial dan koleganya.
Alimin bertemu Tan Malak pada awal 1926 – pertemuan itu tentu saja untuk membahas pemberontakan 1926 di mana Tan Malaka tidak menyetujuinya. Namun, sebelum Alimin kembali ke Indonesia, pemberontakan sudah meletus pada 12 November 1926.
Alimin dan Musso kemudian ditangkap oleh polisi Inggris. Sekeluarnya Alimin dari penjara, dia pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern.
Pada 1946, Alimin kembali ke Indonesia yang baru setahun merdeka. Dia kembali bergabung dengan PKI sebagai seorang senior.
Sewaktu DN Aidit mendirikan kembali PKI secara legal pada awal 1950-an, Alimin tidak lagi menjadi tokoh komunis.
Setelah tidak aktif di PKI, Alimin menikah dengan Hajjah Mariah. Mereka dikaruniai dua putra, yaitu Tjipto dan Lilo.
Alimin pun tinggal di Jakarta sampai wafatnya pada 1964. Saat Alimin meninggal, Bung Karno, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 163 pada 26 Juni 1964. Karena itulah Alimin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.