Siswi SMA ini kena skors di hari pertama sekolah karena membawa kopi. Ia menolak membuang minumannya dan mempersoalkan aturan baru sekolah.
Bawa minuman kopi ke sekolah biasanya bukan masalah besar. Namun, siswi SMA di New York ini justru kena skors setelah menolak membuang minumannya pada hari pertama sekolah.
Siswi tersebut adalah Julie Kaputa yang bersekolah di Beaver River Central School, Castorland, New York. Kejadian itu berlangsung pada hari pertama tahun ajaran baru (3/9).
Julie mengatakan gurunya memberikan beberapa pilihan ketika melihat kopi yang dibawanya, seperti dikutip dari PEOPLE (13/9).
"Saya masuk, membawa kopi, lalu tiba di kelas pertama. Guru saya berkata, 'Saya harus meminta kamu membuangnya, menghabiskannya sekarang, atau pergi ke kantor,'" ujar Julie kepada WWNY.
Ilustrasi es kopi. Foto: Yenny Mustika Sari/detikcom
|
Julie yang merupakan siswi kelas 12 dan masuk program honors mengaku aturan tersebut berkaitan dengan kode etik baru sekolah. Peraturan itu melarang siswa membawa makanan dan minuman dari luar ke lingkungan sekolah.
Namun, Julie dan ibunya, MaryAnne Kaputa, mempersoalkan proses penerapan aturan tersebut. Mereka menilai sekolah seharusnya menggelar dengar pendapat publik sebelum aturan baru diberlakukan.
MaryAnne mengatakan dirinya dan Julie tidak mengetahui adanya dengar pendapat tersebut.
"Katanya harus ada dengar pendapat publik. Kapan itu dilakukan? Kami tidak pernah mengetahuinya. Apakah diumumkan?" ujar MaryAnne.
Menanggapi persoalan itu, Superintendent Beaver River Central School, Todd Green, memberikan pernyataan pada 10 September.
Ilustrasi es kopi susu. Foto: Getty Images/Farknot_Architect
|
Ia menjelaskan bahwa rapat dewan sekolah pada Agustus dianggap sebagai proses dengar pendapat publik, tetapi mengakui banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka dapat menyampaikan pendapat mengenai aturan tersebut.
"Walaupun proses peninjauan tahunan kami dalam praktiknya menyerupai dengar pendapat publik, kami mengakui bahwa pemberitahuan sebelumnya tidak secara jelas mencantumkan istilah 'Dengar Pendapat Publik'," tulis Green dalam pernyataannya.
Green mengatakan pihak sekolah akan memperbaiki persoalan administratif tersebut. Ia juga mengapresiasi sikap Julie yang berani menyuarakan pendapatnya.
"Senang melihat siswa membela apa yang mereka yakini. Kami sangat menghargai hal itu karena sering kali hal tersebut tidak terjadi," ujar Green kepada WWNY.
Menurut Green, aturan baru mengenai makanan dan minuman dibuat untuk meningkatkan lingkungan belajar. Sementara itu, dengar pendapat publik berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 14 September.
MaryAnne juga menjelaskan melalui unggahan Facebook bahwa aturan baru menyebut siswa yang datang membawa makanan atau minuman akan diminta mengonsumsinya sebelum masuk sekolah.
Aturan tahun sebelumnya hanya melarang pengantaran makanan kecuali telah disetujui atau dipesan oleh staf, tanpa melarang siswa membawa makanan dan minuman sendiri.
MaryAnne menyebut aturan baru tersebut menuai penolakan dari siswa, staf, dan orang tua. Petisi bahkan disebut mulai beredar karena aturan itu dinilai terlalu ketat dan sulit diterapkan.
Menurut MaryAnne, Julie sebenarnya mengetahui aturan tersebut. Namun, ia sengaja menolak membuang kopinya untuk menyoroti persoalan proses penerapan aturan sekolah.
Julie akhirnya diperbolehkan kembali mengikuti pelajaran sambil membawa kopinya. Hukuman tersebut juga disebut tidak akan tercatat dalam catatan permanennya.







